Categories
Uncategorized

Sebuah Edukasi Sederhana tentang Kesehatan Mental

Dimulai sejak tahun 1992, pada 10 Oktober, setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Dunia. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mempromosikan serta membangun kesadaran masyarakat tentang urgensi kesehatan mental. Pada 10 Oktober 2021, World Health Organisation (WHO) mengangkat tema “Mental health care for all: let’s make it a reality”, atau kesehatan jiwa untuk semua: bersama kita dapat mewujudkannya.

Sudah saatnya membangun pemahaman bersama tentang bagaimana memandang kesehatan mental  sebagai  sesuatu yang  sama pentingnya  seperti  kesehatan  fisik. Sebab kedua hal tersebut pada dasarnya saling terkoneksi satu sama lain. Seseorang yang mengalami sakit fisik berpotensi mengalami perasaan cemas serta beberapa keluhan psikologis lainnya terkait kondisi kesehatannya.

Sebaliknya, seseorang dengan ketegangan psikologis juga dapat berimbas terhadap kondisi fisiknya. Hal ini terjadi saat kita diminta untuk melakukan presentasi terhadap materi baru yang belum terlalu dikuasai secara dadakan, biasanya akan menyebabkan perubahan pada detak jantung menjadi lebhi tidak teratur, keringat mendadak banjir dan asam lambung mungkin naik. So, dengan ilustrasi tadi kita akan mengamini pernyataan “there is no health without mental health”

Apa sih Kesehatan Mental itu?

Secara sederhana, menurut WHO, seseorang dinilai sehat mental apabila ia memiliki beberapa kriteria di bawah ini :

mampu mengenali dan menerima kelebihan maupun keterbatasan diri.
mampu menghadapi masalah-masalah dalam kesehariannya,
mampu mengambil keputusan,
mampu mengelola emosi dan ekspektasinya,
mampu terhubung, dapat menikmati waktu bersama keluarga, teman, sosial
Definisi tersebut membuat kesehatan mental memiliki cakupan yang lebih luas dari sekedar lawan kata gangguan mental.  Meskipun pada kenyataannya, kesehatan mental seringkali diasosiasikan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Berbagai stigma negatifpun lekat dengan issue kesehatan mental, seperti manusia yang lemah, pencari perhatian, terlalu baper, bahkan kurang iman?.

Sementara itu, beberapa ahli psikologi menggambarkan kesehatan mental sebagai suatu garis kontinum. Saat seseorang merasa dapat menjalankan fungsi kesehariannya sesuai peran artinya ia sedang berada di kontinum sehat mental. Namun saat ia mengalami permasalahan, sangat mungkin titik kontinumnya akan berpindah. Orang dengan kemampuan adaptasi yang baik cenderung dapat mengatasi tekanan keseharian yang bersifat normal sehingga ia akan kembali pada kontinum awal. Sebaliknya saat seseorang kurang adaptif terhadap tekanan dan atau tekanannya berlangsung cukup lama, orang tersebut rentan mengalami permasalahan mental yang dimungkinkan membutuhkan penanganan khusus.

Apa saja tanda atau gejala yang menunjukkan bahwa kondisi mental seseorang sedang butuh perhatian lebih?

Merasa sedih dan mempunyai perasaan tidak berharga yang berpepanjangan
Merasa mudah lelah
Memiliki gangguan tidur (sulit tidur atau jam tidur terlalu panjang)
Perubahan pola makan (terlalu banyak makan atau nafsu makan menurun)
Merasa kehilangan minat untuk melakukan rutinitas harian (bekerja/belajar/tugas rumah)
Memiliki pemikiran untuk melukai diri
Mengurung diri di kamar dan menarik diri dari hubungan sosial
Mudah tersinggung dan marah, mudah menangis tanpa alasan yang jelas
sulit berkonsentrasi, berpikir, dan mengambil keputusan
Gejala-gejala di atas menjadi alarm agar kita mengambil jeda untuk beristirahat. Namun saat gejala ini dirasakan lebih dari satu minggu, maka jangan sungkan mencari bantuan professional Psikolog atau Psikiater.

Ingat ! mencari bantuan tidak membuatmu menjadi lemah. Salam sehat jiwa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *